Sindroma Defisiensi Poliglanduler: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

 Sindroma Defisiensi Poliglanduler: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Apa Itu Sindroma Defisiensi Poliglanduler?

Sindroma Defisiensi Poliglanduler (SDP) adalah kondisi di mana beberapa kelenjar endokrin tidak aktif sebagaimana mestinya dan tidak dapat memproduksi hormon dalam jumlah normal.

Penyebab Sindroma Defisiensi Poliglanduler

SDP dapat disebabkan oleh faktor keturunan. Namun, ada juga beberapa faktor lain yang dapat memicu menurunnya aktivitas kelenjar endokrin, antara lain:

  • Tumor
  • Infeksi
  • Reaksi autoimun yang mengakibatkan peradangan dan kerusakan sebagian atau seluruh kelenjar
  • Aliran darah menuju kelenjar berkurang.

Kerusakan pada satu kelenjar dapat memicu kerusakan pada kelenjar lainnya, sehingga menyebabkan penurunan atau bahkan penghentian fungsi pada sebagian besar kelenjar. Kondisi ini dikenal sebagai kegagalan kelenjar endokrin multipel.

Gejala Sindroma Defisiensi Poliglanduler

Gejala SDP bervariasi tergantung pada kelenjar yang terkena. Beberapa gejala yang umum terjadi antara lain:

  • Hipotiroidisme (ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi cukup hormon tiroid)
  • Penyakit Addison (ketika kelenjar adrenal tidak memproduksi cukup hormon kortikosteroid)

Jenis-jenis Sindroma Defisiensi Poliglanduler

Berdasarkan waktu timbulnya gejala dan kelenjar yang terkena, SDP dibagi menjadi 3 jenis:

1. Sindroma Defisiensi Poliglanduler Tipe 1

SDP tipe 1 biasanya terjadi pada anak-anak. Gejala yang paling sering muncul adalah hipoparatiroidisme (kelenjar paratiroid tidak aktif). Gejala lain yang mungkin terjadi adalah penyakit Addison dan infeksi jamur kronis. Penderita juga mungkin mengalami hepatitis, batu empedu, kesulitan menyerap makanan, dan kebotakan dini.

2. Sindroma Defisiensi Poliglanduler Tipe 2

SDP tipe 2 umumnya terjadi pada orang dewasa, sekitar usia 30-an. Kelenjar adrenal yang kurang aktif dan kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) merupakan gejala yang khas pada tipe ini. Pankreas juga mengalami penurunan fungsi sehingga produksi insulin berkurang dan terjadi diabetes. Hipotiroidisme dan infeksi jamur tidak termasuk dalam gejala tipe 2.

3. Sindroma Defisiensi Poliglanduler Tipe 3

SDP tipe 3 juga terjadi pada orang dewasa dan diduga merupakan tahap awal dari tipe 2. Seseorang didiagnosis dengan SDP tipe 3 jika tidak ada kelainan pada kelenjar adrenal tetapi memiliki setidaknya 2 dari beberapa gejala berikut: hipotiroidisme, kerontokan rambut, diabetes, hilangnya pigmentasi kulit, dan Anemia pernisiosa. Jika kegagalan kelenjar adrenal terjadi, maka kondisi ini akan berkembang menjadi tipe 2.

Pengobatan Sindroma Defisiensi Poliglanduler

SDP tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat ditangani dengan terapi penggantian hormon. Jika terjadi hipotiroidisme, maka akan diberikan hormon tiroid. Jika kelenjar adrenal kurang aktif, maka akan diberikan kortikosteroid. Penderita diabetes akan diberikan insulin. Namun, terapi penggantian hormon tidak dapat mengoreksi kemandulan atau kelainan lain yang disebabkan oleh kurang aktifnya kelenjar seksual (kelenjar gonad).

Kesimpulan

Sindroma Defisiensi Poliglanduler adalah kondisi yang memengaruhi aktivitas kelenjar endokrin dan produksi hormon. Terdapat tiga jenis SDP dengan gejala yang bervariasi. Pengobatannya melibatkan terapi penggantian hormon untuk mengatasi kekurangan hormon.

Posting Komentar