Plasenta Previa: Faktor Risiko dan Gejala

Faktor Risiko Plasenta Previa
Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta menempel terlalu dekat dengan pintu serviks. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan vagina yang serius selama kehamilan dan persalinan. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko plasenta previa antara lain:
- Berusia lebih tua saat hamil
- Jumlah kelahiran sebelumnya yang meningkat
- Pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya
- Berasal dari ras Asia (walaupun alasan ilmiahnya belum jelas)
- Mengandung janin laki-laki (risikonya lebih tinggi dibandingkan dengan janin perempuan)
Plasenta biasanya akan bermigrasi menjauh dari pintu serviks seiring bertambahnya usia kehamilan. Oleh karena itu, wanita pada tahap awal kehamilan lebih mungkin mengalami plasenta previa dibandingkan wanita yang sudah memasuki kehamilan cukup bulan. Pada beberapa kasus, wanita dengan usia kehamilan 10-20 minggu mungkin menunjukkan tanda-tanda plasenta previa pada pemeriksaan USG. Namun, sebagian besar kasus ini akan hilang dengan sendirinya seiring berlanjutnya kehamilan.
Gejala dan Tanda Plasenta Previa
Perdarahan vagina setelah usia kehamilan 20 minggu merupakan gejala utama plasenta previa. Meskipun biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, dalam beberapa kasus perdarahan dapat disertai dengan kontraksi rahim dan nyeri perut. Sebagian besar wanita dengan plasenta previa akan mengalami perdarahan pada suatu waktu tertentu. Intensitas perdarahan dapat bervariasi, mulai dari sedikit hingga deras.
Selain perdarahan vagina, plasenta previa juga dapat menimbulkan gejala lain, di antaranya:
- Plasenta akreta, yaitu kondisi ketika plasenta tumbuh ke dalam dinding rahim dan menyebabkan kesulitan dalam pelepasan plasenta saat persalinan. Komplikasi ini dapat menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa dan biasanya memerlukan histerektomi bersamaan dengan operasi caesar.
- Ketuban pecah dini (KPD) akibat perdarahan yang berhubungan dengan plasenta previa.
- Kelainan pada plasenta atau tali pusat.
- Posisi janin sungsang atau abnormal karena kepala janin tidak dapat masuk ke bagian bawah rahim.
- Penurunan tingkat pertumbuhan janin (hambatan pertumbuhan janin intrauterine).
- Gangguan emosi terkait kecemasan yang dialami pasien karena mengetahui kondisi plasenta previa.